Sekretariat SELARAS
SELARAS hadir untuk memastikan mereka tidak berjalan sendirian — membangun solidaritas, memperkuat perlindungan, dan merawat ruang aman bagi perjuangan kemanusiaan.
Sekretariat Selaras : 0852 1874 7484
Solidaritas Perempuan Pembela Keadilan
SELARAS hadir untuk memastikan mereka tidak berjalan sendirian — membangun solidaritas, memperkuat perlindungan, dan merawat ruang aman bagi perjuangan kemanusiaan.


“Cukuplah saya saja yang pernah merasakan susah. Perempuan lain jangan.”
Kalimat itu diucapkan Siti Batkatinah dengan tegas, seolah merangkum seluruh perjalanan hidupnya. Di balik senyumnya yang mudah mengembang dan sikapnya yang terbuka kepada siapa saja, tersimpan kisah panjang tentang kehilangan, perjuangan, dan tekad untuk memastikan perempuan lain tidak mengalami kesulitan yang pernah ia rasakan.
Hari ini, perempuan yang akrab dipanggil ibu ST itu dikenal sebagai satu-satunya Ketua RT perempuan di Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sabangau, Kota Palangkaraya. Ia aktif menggerakkan kelompok perempuan, mendampingi warga mengurus dokumen kependudukan, membantu penyelesaian berbagai persoalan sosial, serta menjadi Paralegal Komunitas yang membela hak-hak perempuan dan anak mencari keadilan.
Namun jalan menuju peran tersebut tidak pernah mudah.
ST lahir dan besar di Kalimantan Selatan dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang anggota TNI yang mendidik anak-anaknya dengan nilai disiplin dan kepedulian terhadap sesama. Ada satu pesan ayahnya yang hingga kini selalu ia pegang erat.
“Nak, kalau nanti punya pangkat atau hidup berkecukupan, jadilah manusia yang memanusiakan manusia dan membawa manfaat bagi orang lain.”
Pesan itu menjadi bekal hidup yang terus menuntunnya, terutama ketika cobaan besar datang.
Pada tahun 2007, suami ST meninggal dunia. Sejak saat itu, ia harus membesarkan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil seorang diri. Anak pertamanya baru berusia sekitar tiga setengah tahun, sementara adiknya masih berusia dua setengah tahun. Dalam waktu sekejap, ia harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya.
Masa-masa itu menjadi titik terberat dalam hidupnya. Selain kehilangan pasangan hidup, ia juga harus menghadapi ketidakpastian ekonomi dan tanggung jawab besar sebagai perempuan kepala keluarga. Namun di tengah kesedihan itu, Smengambil keputusan yang mengubah hidupnya.
Pada tahun 2008, ST memutuskan merantau ke Kota Palangkaraya. Ia datang tanpa keluarga, tanpa jaringan pertemanan, hanya membawa dua anak, beberapa potong pakaian, dan uang seratus ribu rupiah.
“Yang saya punya waktu itu hanya keyakinan bahwa Allah selalu bersama saya,” kenangnya.
Hari-hari awal di Palangkaraya penuh dengan perjuangan. Ia tinggal di barak atau kos-kosan sederhana. Demi menyambung hidup, ia bekerja apa saja yang bisa dikerjakannya. Ia pernah menjadi pekerja rumah tangga, bekerja di usaha laundry sebagai tukang cuci dan setrika, hingga menjadi petugas keamanan. Ada hari-hari ketika ia harus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain hanya untuk memastikan kebutuhan makan anak-anaknya terpenuhi.
Sedikit demi sedikit kehidupannya mulai membaik. Setelah bekerja keras dan menabung, ia mampu menyewa tempat tinggal sendiri. Ia kemudian bekerja di sebuah dealer Yamaha sebagai tenaga pemasaran. Di tempat itulah ia bertemu dengan suaminya yang sekarang.
Namun meski telah menikah kembali, ST tetap memegang prinsip untuk mandiri.
“Saya tidak pernah mau bergantung sepenuhnya kepada siapa pun. Selama saya masih sehat dan kuat, saya harus tetap bekerja,” ujarnya.
Prinsip itu terus ia pegang hingga kini. Selain aktif di masyarakat, ia masih membuat dan menjual berbagai camilan rumahan untuk menambah penghasilan keluarga.
Berbagai pengalaman hidup yang keras membuat ST semakin peka terhadap persoalan perempuan. Ia merasakan sendiri bagaimana sulitnya menjadi perempuan yang harus berjuang sendirian, bagaimana rumitnya mengurus berbagai dokumen administrasi, dan bagaimana minimnya akses informasi yang dimiliki banyak perempuan.
Kesulitan mengurus identitas kependudukan yang pernah dialaminya menjadi salah satu titik balik penting. Ia mulai belajar memahami prosedur administrasi, pengurusan dokumen kependudukan, perpindahan penduduk antarwilayah, hingga berbagai layanan publik lainnya. Pengetahuan yang awalnya ia cari untuk membantu dirinya sendiri kemudian ia gunakan untuk membantu masyarakat di sekitarnya.
Ketika mengenal Serikat Perempuan Kepala Keluarga (Serikat Pekka) pada tahun 2022 di wilayahnya, semangat tersebut semakin menemukan wadah. Melalui berbagai kegiatan pendidikan, advokasi, dan berbagai proses belajar yang ia ikuti, keberaniannya tumbuh semakin kuat. Ia mulai aktif dalam kegiatan pemberdayaan perempuan dan dipercaya menjadi pengurus Serikat Pekka di tingkat kelurahan, kecamatan, hingga Kota Palangkaraya.
Bagi ST, banyak perempuan sebenarnya ingin menyampaikan pendapat dan memperjuangkan haknya, tetapi terhambat oleh rasa takut dan kurang percaya diri.
“Saya sering bertemu perempuan yang sebenarnya ingin bicara, ingin menyampaikan hak-haknya, tetapi takut. Padahal perempuan juga punya hak untuk bersuara,” katanya.
Karena itu, ia rutin mengajak perempuan-perempuan di lingkungannya untuk belajar, berdiskusi, dan saling menguatkan. Ia juga mengembangkan berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi, termasuk kelompok berkebun “Maju Bersama” yang memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai, tomat, dan tanaman pangan lainnya.
Kepercayaan masyarakat terhadapnya terus tumbuh. Pada tahun 2024, warga memilihnya sebagai Ketua RT. Dari 23 RT yang ada di Kelurahan Kereng Bangkirai, hanya ST yang merupakan perempuan.
Sebagai Paralegal Komunitas, ia banyak mendampingi persoalan kekerasan dalam rumah tangga, identitas hukum, serta berbagai persoalan sosial lainnya. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ia mendampingi seorang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.
Saat proses pendampingan berlangsung, suami korban datang dengan membawa senjata tajam dan dalam keadaan marah. Situasi yang semula tegang berpotensi menjadi berbahaya. Namun ST memilih tetap tenang.
Ia meminta laki-laki tersebut meletakkan senjatanya dan mengajak kedua pihak duduk bersama. Dengan melibatkan Ketua RT, Babinsa, Babinkamtibmas, dan tokoh setempat, ia memfasilitasi mediasi yang menghasilkan kesepakatan tertulis bahwa pelaku tidak akan mengulangi kekerasannya. Jika kekerasan kembali terjadi, maka proses hukum akan ditempuh.
Beberapa bulan kemudian, ST bertemu kembali dengan perempuan yang pernah ia dampingi. Saat itu perempuan tersebut sedang hamil dan hidup lebih tenang bersama keluarganya.
“Alhamdulillah, mereka baik-baik saja,” katanya sambil tersenyum.
Selain kasus kekerasan, ST juga aktif membantu masyarakat memperjuangkan hak-hak mereka. Berbekal pengetahuannya tentang data kependudukan, ia sering membantu memastikan bantuan sosial diterima oleh warga yang benar-benar membutuhkan. Ia juga membantu pasangan yang menikah secara siri agar dapat memperoleh legalitas hukum demi masa depan anak-anak mereka.
Perjalanan panjang tersebut tidak selalu berjalan mulus. Tidak jarang ia menghadapi cibiran, keraguan, bahkan dirinya dianggap terlalu ikut campur urusan orang lain, serta dipertanyakan karena aktifitasnya yang begitu banyak. Namun ST memilih untuk tidak larut dalam komentar negatif.
“Orang boleh menilai apa saja. Yang penting Tuhan tahu apa yang saya kerjakan,” ujarnya.
Kini, di usia 51 tahun, semangatnya justru semakin besar. Selain menjadi Ketua RT, ia juga aktif sebagai anggota bidang sosial Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Kalimantan Tengah dan terus mendampingi perempuan di komunitasnya.
Bagi Siti, keadilan adalah ketika perempuan didengar, dihargai, dan memperoleh solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Keadilan bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal kemanusiaan.
Ke depan, ia berharap semakin banyak perempuan yang berani belajar, berani berbicara, dan berani memperjuangkan haknya. Ia juga ingin terus memperdalam kemampuan dalam bidang public speaking, pendampingan hukum, serta penguatan tentang hukum adat agar dapat membantu lebih banyak masyarakat.
“Jangan pernah mengatakan perempuan tidak bisa. Kalau belum bisa, belajar. Kalau belum tahu, cari tahu. Perempuan harus berani maju.”
Perjalanan hidup Siti Batkatinah menunjukkan bahwa keberanian tidak lahir dari kehidupan yang mudah. Keberanian tumbuh dari luka yang diolah menjadi kekuatan, dari kesulitan yang dijadikan pelajaran, dan dari keyakinan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang memberi manfaat bagi sesama.
Dari seorang ibu yang datang ke Palangkaraya hanya dua anak kecil dan uang seratus ribu rupiah, ST kini menjadi perempuan yang bersuara bagi mereka yang belum berani bersuara, mendampingi banyak perempuan untuk berani bersuara, dan memperjuangkan hak-haknya. Dan hingga hari ini, ia memilih untuk terus melangkah.
Pewawacara : Rudianto
Penulis : Rudianto
Editor : Fitria Villa Sahara
